POPULASI DAN SAMPEL
A.
Pengertian Populasi
Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlahpenduduk. Oleh karena itu,
apabila disebutkan kata populasi, orang kebanyakan menghubungkannya dengan
masalah-masalah kependudukan. Hal tersebut ada benarnya juga, karena itulah
makna kata populasi sesungguhnya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kata
populasi menjadi amat populer, dan digunakan di berbagai disiplin ilmu.
Menurut
Suharsimi Arikunto (1998; 115) populasi adalah keseluruhan obyek penelitian.
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah
penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau biasa disebut
juga penelitian sensus.NAZIR (1983;327) mengatakan bahwa,”Populasi adalah
berkenaan dengan data ,bukan orang atau bendanya”.Sedangkan menurut Sugiono
(1994; 57) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/
subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa: ”Populasi merupakan objek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi
syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.
Dalam metode penelitiankata populasi amat populer, digunakan untuk
menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian.
Oleh karenanya, populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari
objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai,
peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi
sumber data penelitian.
Karena pengertian populasi yang
demikian diatas, maka populasi menjadi amat beragam. Kalau populasi dilihat
dari penentuan sumber data, maka populasi dapat dibedakan menjadi: populasi terbatas dan populasi tidak
terbatas.
1.
Populasi
terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber yang jelas
batas-batasnya secara kuantitatif.
Contoh:
·
Jumlah Penduduk kota Bandung
2.500.000 jiwa.
·
Jumlah 1.490 guru SD di Yogyakarta
mengikuti prajabatan.
2.
Populasi
tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki
sumber data yang tidak dapat ditentukan batas-batasnya secara kuantitatif.
Contoh:
·
Suatu percobaan seorang Bandar akan
melemparkan sepasang dadu sampai tak terhingga kali lemparan,maka setiap kali
mencatat sepasang bilangan yang muncul akan mendapatkan sepasang nilai yang tak
terhingga pula.
·
Meneliti berapa liter pasang surut
air laut pada bulan purnama.
Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan: Populasi homogen dan Populasi heterogen.
1. Populasi homogen, yaitu
keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat yang relatif
sama satu sama lainnya.
2. Populasi heterogen, yaitu
keseluruhan individu anggota populasi relatif memiliki sifat-sifat individual,
dimana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan
yang lainnya.
B. Pengertian Sampel
Sugiyono (1996) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi
terlalu besar maka untuk memudahkan penelitian maka perlu dilakukan pengambilan
sampel (sampling). Sedapat mungkin dalam pengambilan sampel harus benar-benar
menggambarkan keadaan populasi.
Pengambilan
sampel yang tidak reprensentatif (tidak mewakili), ibarat orang buta
menggambarkan keadaan gajah. Satu orang buta memegang telinga gajah, maka ia
bilang bahwa gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang kaki gajah, maka ia
bilang bahwa gajah itu seperti bambu yang besar. Orang ketiga memegang badan
gajah yang besar, kemudian ia bilang bahwa gajah itu seperti tembok. Begitulah
pengambilan sampel yang tidak representatif akan menggambarkan sesuatu
itu salah, karena kesimpulannya terputus-putus, tidak utuh.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam
penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan. Secara umum teknik
pengambilan sampel dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yakni;
probability sampling dan non probability sampling.
1)
Probality Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel
yang memberikan peluang yang sama terhadap semua anggota populasi untuk
dijadikan sampel. Teknik ini meliputi;
1. Simple
Ramdom Sampling, dikatakan simpel (sederhana) karena pengambilan sampel dari
semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang
ada dalam anggota populasi itu. Cara ini dilakukan apabila anggota populasi
dianggap homogen.
2. Proportionate
Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan bila populasi mempunyai
anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.
3. Disproportionate
Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel
apabila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.
4. Cluster
Sampling, teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel apabila
obyek penelitian yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya
pelajar dari suatu propinsi, kabupaten atau karisidenan.
2)
Non-Probality Sampling
Nonprobability
sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang yang sama kepada setiap
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
1.
Sampling Sistematis, adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
2. Sampel
Kuota, adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
3. Sampel
Aksidental, adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa
saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber
data.
4. Sampel Purposive, adalah teknik
penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian
tentang disiplin guru dalam mengajar di kabupaten X, maka sampel yang
dipilih adalah seluruh guru yang mengajar di sekolah yang dikehendaki oleh peneliti
sebagai obyek penelitian.
5. Sampel
Jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan
sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil,
kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana
semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel.
6. Sampel
Snowball, adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil,
kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel.
Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju
yang bila menggelinding , makin lama makin besar.
D. Menentukan Jumlah Sampel
Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel.
Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah
populasi. Jadi jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan
diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel
yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut. Makin besar jumlah sampel
mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan
sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar
kesalahan generalisasi (Sugiono, 1994; 63)
Terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan untuk
menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi dalam buku
ini kita akan menggunakan Teknik Proportionate
Rondom Sampling.
Contoh :
·
Cara menentukan ukuran sampel (Jumlah
kursi anggota DPR dari partai besar pemenang pemilu Tahun 1999 sebesar N =423
kursi) dengan teknik proportionate rondom
sampling.
1)
Jumlah petugas pendamping IDT (N)=424
orang yang besarnya ditentukan oleh rumus Al-Rasyid (1994;156) sebagai berikut
:
Dimana :
N = Jumlah populasi = 423kursi
Be
=Bound of Error diambil 10%
Z
dan no =
0,05 N = 0,05
423 = 21,15,karena no > 0,05 N atau 99,0025>
21,15 maka besarnya sampel dapat dihittung dengan rumus :
Sehingga
jumlah sampel yang di peroleh adalah sebagai berikut :
Dalam
penelitian ini nilai 80,36 dibulatkan menjadi 81 responden.Dari jumlah sampel
tersebut kemudian ditentukan jumlah masing-masing sampel menurut tingkatan
(strata) pegawai secara proposional dengan rumus : ni = NI/N . n
Dimana : ni = jumlah sampel menurut stratum
n = jumlah sampel seluruhnya
Ni = jumlah populasi
menurut stratum
N = jumlah populasi seluruhnya
1) Jumlah kursi anggota DPR
a) PDIP =
153/423
81 = 29,30
29
kursi
b) Partai Golkar = 120/423
81 = 22,98
23 kursi
c) PPP = 58/423
81 =
11,11
11 kursi
d) PKB = 51/423
81 = 9,77
10 kursi
e) Partai Demokrasi =
41/423
81 = 7,85
8 kursi
Berdasarkan perhitungan diatas, maka dibuatkan seperti pada
TABEL 2 sebagai berikut :
TABEL
2
POPULASI
DAN SAMPEL ANGGOTA DPR PARTAI BESAR
PEMENANG
PEMILU TAHUN 1999
|
NO
|
PARTAI BESAR PEMENANG PEMILU
|
POPULASI
|
SAMPEL
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Partai Golkar
Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Partai Reformasi
|
153 orang
120 orang
58 orang
51 orang
41 orang
|
29 kursi
23 kursi
11 kursi
10 kursi
8 kursi
|
|
Jumlah
|
423 orang
|
81 kursi
|
|
DATA
Pengertian Datadan Penggolongannya
Dari uraian di atas, sebenarnya data adalah kumpulan keterangan atau informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau sifat. Jika kita mendapatkan data yang tidak baik, sebaik apa pun cara pengolahan data yang kita lakukan, hasilnya atau kesimpulan yang didapat dari data tersebut tetap tidak baik. Semisal, ungkapan ”garbage in, garbage out”, yang artinya jika yang masuk sampah, yang keluar pun juga sampah. Jadi, syarat utama agar analisa data secara statistik menghasilkan informasi atau kesimpulan yang baik adalah data yang diolah haruslah juga baik.
Apa itu data yang baik? Data yang baik adalah data yang sifatnya representatif (mewakili), objektif (sesuai dengan apa yang ada atau yang terjadi), relevan (ada hubungannya dengan persoalan yang sedang dihadapi dan akan dipecahkan), mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi atau standard error (kesalahan baku) yang kecil.
Dari mana data diperoleh?Data dapat diperoleh dari sumber internal (internal data) dan sumber eksternal (external data).Data internal adalah data yang didapat oleh organisasi itu sendiri untuk keperluan operasi sehari-hari.Organisasi dimaksud dapat berupa instansi pemerintah maupun swasta, misalnya departemen-departemen, Biro Pusat Statistik, BAPPENAS, BUMN, perusahaan-perusahaan swasta dan sebagainya.Sedangkan, data eksternal adalah data yang didapat dari luar organisasi yang bersangkutan, biasanya menggambarkan keadaan di luar organisasi tersebut. Contoh data jenis ini misalnya data pendapatan nasional, penduduk, harga-harga bahan pokok yang dukumpulkan oleh Biro Pusat Statistik, data keuangan negara yang dikumpulkan oleh departemen keuangan, data perbankan dari Bank Indonesia dan sebagainya, termasuk data yang dikumpulkan oleh badan-badan internasional, seperti UNESCO, IMF, FAO dan lain-lain.
1. DATA KUANTITATIF DAN DATA KUALITATIF
a) DATA KUANTITATIF
Dari uraian di atas, sebenarnya data adalah kumpulan keterangan atau informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau sifat. Jika kita mendapatkan data yang tidak baik, sebaik apa pun cara pengolahan data yang kita lakukan, hasilnya atau kesimpulan yang didapat dari data tersebut tetap tidak baik. Semisal, ungkapan ”garbage in, garbage out”, yang artinya jika yang masuk sampah, yang keluar pun juga sampah. Jadi, syarat utama agar analisa data secara statistik menghasilkan informasi atau kesimpulan yang baik adalah data yang diolah haruslah juga baik.
Apa itu data yang baik? Data yang baik adalah data yang sifatnya representatif (mewakili), objektif (sesuai dengan apa yang ada atau yang terjadi), relevan (ada hubungannya dengan persoalan yang sedang dihadapi dan akan dipecahkan), mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi atau standard error (kesalahan baku) yang kecil.
Dari mana data diperoleh?Data dapat diperoleh dari sumber internal (internal data) dan sumber eksternal (external data).Data internal adalah data yang didapat oleh organisasi itu sendiri untuk keperluan operasi sehari-hari.Organisasi dimaksud dapat berupa instansi pemerintah maupun swasta, misalnya departemen-departemen, Biro Pusat Statistik, BAPPENAS, BUMN, perusahaan-perusahaan swasta dan sebagainya.Sedangkan, data eksternal adalah data yang didapat dari luar organisasi yang bersangkutan, biasanya menggambarkan keadaan di luar organisasi tersebut. Contoh data jenis ini misalnya data pendapatan nasional, penduduk, harga-harga bahan pokok yang dukumpulkan oleh Biro Pusat Statistik, data keuangan negara yang dikumpulkan oleh departemen keuangan, data perbankan dari Bank Indonesia dan sebagainya, termasuk data yang dikumpulkan oleh badan-badan internasional, seperti UNESCO, IMF, FAO dan lain-lain.
1. DATA KUANTITATIF DAN DATA KUALITATIF
a) DATA KUANTITATIF
Data yang
berbentuk angka atau bilangan, misalnya luas tanah, jumlah penduduk dan
sebagainya.Untuk jenis data ini dapat dilakukan perhitungan-perhitungan atau
operasi matematika, seperti penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan
sebagainya.Data kuantitatif nilainya bisa berubah-ubah sehingga disebut
variabel.
Data kuantitatif dapat dibagi atas:
• Data Interval
Ukuran data mempunyai interval atau jarak, misalnya berat badan antara 50-60 kg.
• Data Rasio
Data berupa angka dalam arti yang sebenarnya, sehingga mempunyai nilai nol.
Data jenis ini diperoleh melalui pengukuran dan memiliki tingkat pengukuran paling tinggi diantara jenis data lainnya.
b) DATA KUALITATIF
Data kualitatif adalah data yang bukan berbentuk angka atau bilangan, misalnya kepuasan pelanggan (sangat puas, puas, kurang puas dan sebagainya), sehingga kita tidak dapat melakukan operasi matematika terhadapnya. Jenis data ini disebut atribut.
Data kualitatif dapat dibagi atas:
• Data nominal
Ukuran data nominal adalah kategori, misalnya jenis kelamin, laki-laki atau wanita, tempat tinggal dan sebagainya. Dilihat dari tingkat pengukuran data, data nominal mempunyai tingkatan yang paling rendah dari jenis data lainnya.Hal tersebut karena walaupun dalam prakteknya data ini bisa diangkakan, tetapi terhadapnya tidak bisa dilakukan operasi matematika. Contoh pemberian angka tersebut di atas misalnya, angka ’1’ untuk yang tinggal di Jakarta, ’2’ untuk yang tinggal di Bandung, ’3’ untuk Surabaya dan sebagainya.
• Data Ordinal
Data ordinal hampir sama dengan data nominal, hanya saja data orrdinal mempunyai tingkatan data atau urutan kelas, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Contoh data ini adalah data tentang kepuasan pelanggan, yang dibagi menjadi sangat puas, tidak puas, antara puas dan tidak puas, tidak puas dan sangat tidak puas.Data ordinal mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari data nominal.Walaupun mempunyai tingkatan, terhadap jenis data ini kita tetap tidak dapat melakukan operasi matematika.
Dilihat dari tingkat data, urutan dari yang paling tinggi adalah data rasio, data interval, data ordinal dan paling rendah data nominal.Untuk mengolah data kualitatif (data nominal dan ordinal), biasanya digunakan statistik non parametrik, sedangkan untuk data kuantitatif digunakan statistik parametrik.
2. DATA INTERNAL DAN DATA EKSTERNAL
• DATA INTERNAL
Data yang berasal dari dalam organisasi atau perusahaan sendiri. Data jenis ini biasanya berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data keuangan (neraca, laporan laba-rugi dan sebagainya), data kepegawaian, data produksi dan lain-lain.
• DATA EKSTERNAL
Data yang berasal bukan dari dalam organisasi perusahaan sendiri. Data ini sering tidak berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data tentang jumlah kendaraan di Jakarta, jumlah penduduk di suatu desa dan lain-lain.
3. DATA PRIMER DAN DATA SEKUNDER
• DATA PRIMER
Data yang dukumpulkan, diolah serta diterbitkan sendiri oleh organisasi yang menggunakannya. Contoh jenis data ini adalah data kependudukan yang dibuat oleh Biro Pusat Statistik, data tentang pertanian yang dibuat oleh Departemen Pertanian dan sebagainya.
• DATA SEKUNDER
Data yang tidak dibuat atau diterbitkan oleh penggunanya, misalnya data tentang jumlah kendaraan dari Departemen Perhubungan merupakan data primer bagi Departemen tersebut karena dibuat dan diterbitkannya, tapi merupakan data sekunder bagi PT X sebagai pengguna, yang mendapatkannya dari sumber lain (misalnya media massa) yang mengutipnya. Jadi, orang bisa mendapatkan data sekunder dari harian, majalah, buletin dan media massa lainnya yang mengutip data dari sumber-sumber lain yang menerbitkannya (misalnya data dikutip dari departemen, Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia dan lain-lain). Dengan demikian, data eksternal bisa berupa data primer, bisa juga berupa data sekunder.
Data kuantitatif dapat dibagi atas:
• Data Interval
Ukuran data mempunyai interval atau jarak, misalnya berat badan antara 50-60 kg.
• Data Rasio
Data berupa angka dalam arti yang sebenarnya, sehingga mempunyai nilai nol.
Data jenis ini diperoleh melalui pengukuran dan memiliki tingkat pengukuran paling tinggi diantara jenis data lainnya.
b) DATA KUALITATIF
Data kualitatif adalah data yang bukan berbentuk angka atau bilangan, misalnya kepuasan pelanggan (sangat puas, puas, kurang puas dan sebagainya), sehingga kita tidak dapat melakukan operasi matematika terhadapnya. Jenis data ini disebut atribut.
Data kualitatif dapat dibagi atas:
• Data nominal
Ukuran data nominal adalah kategori, misalnya jenis kelamin, laki-laki atau wanita, tempat tinggal dan sebagainya. Dilihat dari tingkat pengukuran data, data nominal mempunyai tingkatan yang paling rendah dari jenis data lainnya.Hal tersebut karena walaupun dalam prakteknya data ini bisa diangkakan, tetapi terhadapnya tidak bisa dilakukan operasi matematika. Contoh pemberian angka tersebut di atas misalnya, angka ’1’ untuk yang tinggal di Jakarta, ’2’ untuk yang tinggal di Bandung, ’3’ untuk Surabaya dan sebagainya.
• Data Ordinal
Data ordinal hampir sama dengan data nominal, hanya saja data orrdinal mempunyai tingkatan data atau urutan kelas, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Contoh data ini adalah data tentang kepuasan pelanggan, yang dibagi menjadi sangat puas, tidak puas, antara puas dan tidak puas, tidak puas dan sangat tidak puas.Data ordinal mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari data nominal.Walaupun mempunyai tingkatan, terhadap jenis data ini kita tetap tidak dapat melakukan operasi matematika.
Dilihat dari tingkat data, urutan dari yang paling tinggi adalah data rasio, data interval, data ordinal dan paling rendah data nominal.Untuk mengolah data kualitatif (data nominal dan ordinal), biasanya digunakan statistik non parametrik, sedangkan untuk data kuantitatif digunakan statistik parametrik.
2. DATA INTERNAL DAN DATA EKSTERNAL
• DATA INTERNAL
Data yang berasal dari dalam organisasi atau perusahaan sendiri. Data jenis ini biasanya berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data keuangan (neraca, laporan laba-rugi dan sebagainya), data kepegawaian, data produksi dan lain-lain.
• DATA EKSTERNAL
Data yang berasal bukan dari dalam organisasi perusahaan sendiri. Data ini sering tidak berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data tentang jumlah kendaraan di Jakarta, jumlah penduduk di suatu desa dan lain-lain.
3. DATA PRIMER DAN DATA SEKUNDER
• DATA PRIMER
Data yang dukumpulkan, diolah serta diterbitkan sendiri oleh organisasi yang menggunakannya. Contoh jenis data ini adalah data kependudukan yang dibuat oleh Biro Pusat Statistik, data tentang pertanian yang dibuat oleh Departemen Pertanian dan sebagainya.
• DATA SEKUNDER
Data yang tidak dibuat atau diterbitkan oleh penggunanya, misalnya data tentang jumlah kendaraan dari Departemen Perhubungan merupakan data primer bagi Departemen tersebut karena dibuat dan diterbitkannya, tapi merupakan data sekunder bagi PT X sebagai pengguna, yang mendapatkannya dari sumber lain (misalnya media massa) yang mengutipnya. Jadi, orang bisa mendapatkan data sekunder dari harian, majalah, buletin dan media massa lainnya yang mengutip data dari sumber-sumber lain yang menerbitkannya (misalnya data dikutip dari departemen, Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia dan lain-lain). Dengan demikian, data eksternal bisa berupa data primer, bisa juga berupa data sekunder.
JENIS SKALA & TIPE SKALA
PENGUKURAN
1. Jenis Skala
Pengukuran
Maksud dari skala pengukuran ini
untuk mengklasifikasikan variabel yang akan di ukur supaya tidak terjadi
kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya.
Jenis-jenis skala pengukuran ada 4 yaitu : Skala Nominal, Skala Ordinal, Skala
Interval, dan Skala Ratio.
a)
Skala Nominal
Skala nominal yaitu skala yang paling
sederhana disusun menurut jenis atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk
membedakan sebuah karateristik dengan karateristik yang lain.
Ciri-ciri skala
nominal :
·
Hasil
penghitungan dan tidak dijumpai bilangan pecahan,
·
Angka
yang tertera hanya label saja,
·
Tidak
mempunyai urutan (ranking),
·
Tidak
mempunyai ukuran baru,
·
Tidak
mempunyai nol mutlak.
Ø
|
2
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
|
3
|
|
1
|
|
3
|
Jenis
Kulit : Hitam Kuning Putih Angka
|
4
|
|
1
|
|
3
|
|
2
|
|
5
|
|
6
|
|
5
|
|
2
|
|
4
|
|
1
|
|
3
|
Agama
yang dianut : Islam Kristen Hindu Budha dan lain-lainnya.
Ø
|
4
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
-SD SMP SMU dan PT
|
2
|
|
1
|
-Laaki-laki dan Wanita
|
3
|
|
2
|
|
1
|
|
2
|
|
1
|
|
4
|
-Pekerja dan Pengangguran
b)
Skala
Ordinal
Skala Ordinal adalah skala yang di
dasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang
terendah atau sebaliknya.
Contoh :
1) Mengukur
tingkat prestasi kerja
Nilai : I II III IV
Angka : 100 80
75 50
2) Mengukur
gaji pegawai
Eselon :
I II III IV
Gaji (Juta) : 1 0,75 0,5 0,25
3)
|
4
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
4)
Keteladanan :
tingkat tingkat tingkat dan tingkat
5)
Tingkat senioritas
pegawai
|
3
|
|
4
|
6)
|
1
|
|
2
|
|
2
|
|
1
|
|
3
|
|
2
|
7) Status
sosial : Kaya Sederhana dan miskin
8) Daftar
urut pegawai.
Langkah-langkah pengerjaan apabila terjadi sama nilainya dalam data
skala ordinal :
·
Urutkan data dari yang
terendah sampai yang tertinggi atau sebaliknya.
·
Berilah angka
1(tertinggi) dan 4 (terendah).
Contoh :
Dalam proses mengajar di di STIA LAN, di
dapat data berjenjang yaitu :
|
4
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
Ranking semula :
Maka ranking menjadi :
a) IPK
3,8 sebagai Ranking 1
b) IPK
3,2 sebagai Ranking 2,5 dengan cara : ½ (2+3) = 2,5
c) IPK
3,0 sebagai Ranking 4
c)
Skala Interval
Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak antara satu data
dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama.
Contoh :
·
Skor ujian Perguruan
tinggi : A, B, C, D, dan E.
·
Skor IQ
·
Waktu : menit, jam,
hari, minggu, bulan, tahun.
·
Temperatur atau suhu
·
|
5
|
|
5
|
|
4
|
|
4
|
Puas
Baik
|
3
|
|
3
|
Cukup Puas Sedang
|
2
|
|
2
|
Kurang Puas Buruk
|
1
|
|
1
|
Tidak Puas Buruk
sekali
·
Memperlihatkan Jarak
(interval)
Standar nilai mahasiswa untuk mencapai
IP:
Huruf : A = 4; B = 3; C = 2; D = 3; dan
E = 0
Nilai intervalnya :
a)
A dengan B
4 – 3 = 1
b)
B dengan D
3 – 1 = 2
c)
A dengan D
4 – 1 = 3, dan seterusnya.
Nilai interval A dengan D dengan C
adalah
= (A - C) + (C - D) = (4 - 2) + (2 -1) =
3
d)
Skala
Ratio
Skala ratio adalah skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan
mempunyai jarak yang sama. Misalnya umur manusia dan ukuran timbangan keduanya
tidak memiliki angka nol negatif.Artinya seseorang tidak dapat berumur di bawah
nol tahun dan seseorang harus memiliki timbangan di atas nol pula.
Contoh yang lain :
Berat badan, tinggi pohon, tinggi badan
manusia, jarak, panjang, dan sebagainya.
2. Tipe Skala Pengukuran
Tipe
skala pengukuran menurut gejala sosial yang diukur,yaitu :
Ø Skala
pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian. Termasuk tipe ini
adalah : skala sikap, skala moral, ktest karakter, skala partisipasi sosial.
Ø Skala
pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
Termasuk tipe ini adalah : skala mengukur status sosial ekonomi, lembaga –
lembaga swadaya masyarakat (sosial), kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan
lain sebagainya.
Skala Sikap
Pada skala ini
dikemukakan hanya untuk mengukur sikap.
Skala sikap yang
sering digunakan ada 5 macam,yaitu :
1. Skala
Likert
2. Skala
guttman
3. Skala
Simantict Defferensial
4. Ranting
Scale
5. Skala
Thurshtone
1)
Skala
Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur
sikap,pendapat dan persepai seorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala
sosial.
Dengan menggunaka skala likert, maka
variabel yang di ukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi di jabarkan menjadi
sub variabel kemudian sub variabel di jabarkan menjadi indikator – indikator
yang dapat diukur.Dan indikator yang sudah terukur dapat di jadikan titik tolak
untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan yang perlu di jawab oleh
responden.
Dalam hubungan
teknik pengumpulan data angket, instrumen disebarkan kepada 70 responden,
kemudian direkapitulasi.
2)
Skala
Guttman
Skala guttman adalah
skala komulatif.Skala Guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel
yang multi dimensi. Skala guttman disebut juga skala scalogram yang sangat baik
untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang
di teliti,yang sering disebut dengan atribut universal.
Jadi,skala guttman ialah skala yang
digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya :
yakin – tidak yakin; ya – tidak; benar – salah; positif – negatif; pernah –
belum pernah; setuju – tidak setuju.dan lain sebagainya.
3)
Skala
Diferensial Semantik
Skala diferensial semantik atau skala
perbedaan semantik berisikan serangkaian karateristik bipolar (dua kutub),
seperti : panas – dingin; popular – tidak
popular; baik – tidak baik, dan sebagainya
Karateristik
bipolar mempunyai 3 dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek yaitu :
·
Potensi, yaitu kekuatan
atau atraksi fisik suatu objek
·
Evaluasi, yaitu hal2
yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu objek.
·
Aktivitas, yaitu tingkat
gerakan suatu objek (Jusman Iskandar dan Karolina Nitimiharjo 2000: 154 - 155)
Contoh : Netral
|
1 5
|
|
1 5
|
|
1 5
|
|
1 5
|
|
1 5
|
|
1 5
|
Dari contoh
diatas, responden memberikan tanda (x) terhadap nilai yang sesuai dengan
persepsinya.
4)
Rating
Scale
Berdasarkan ke 3 skala pengukuran,
yaitu: Skala Likert; Skala guttman, dan skala perbedaan semantik,data yang
diperoleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan.Sedangkan rating scale
yaitu data mentah yang di dapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif. Rating scale tidak terbatas untuk pengukuran sikap
saja,tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap gejala atau fenomena
lainnya.
Misalnya skala untuk mengukur status
sosial ekonomi, iptek, instansi dan lembaga, kinerja dosen, kegiatan PBM,
kepuasan pelanggan,produktifitas kerja, motivasi pegawai, dan lainnya.
5)
Skala
Thurstone
Skala thurstone
meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa
pernyataan yang menyajikan pandangan yang berbeda – beda.Pada umumnya setiap
item mempunyai asosiasi nilai antara 1 sampai dengan 10,
DAFTAR PUSTAKA
Riduan,2003.Statistika Dasar.Bandung:Alfabeta
Amiruddin, Wachid.2012. Populasi
dan Sampel.Tersedia :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar