Sabtu, 16 Mei 2015

populasi dan sampel



POPULASI DAN SAMPEL
A.    Pengertian Populasi
            Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlahpenduduk.  Oleh karena itu, apabila disebutkan kata populasi, orang kebanyakan menghubungkannya dengan masalah-masalah kependudukan. Hal tersebut ada benarnya juga, karena itulah makna kata populasi sesungguhnya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kata populasi menjadi amat populer, dan digunakan di berbagai disiplin ilmu.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998; 115) populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau biasa disebut juga penelitian sensus.NAZIR (1983;327) mengatakan bahwa,”Populasi adalah berkenaan dengan data ,bukan orang atau bendanya”.Sedangkan menurut Sugiono (1994; 57) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/ subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa: ”Populasi merupakan objek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.
Dalam metode penelitiankata populasi amat populer, digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karenanya, populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.
Karena pengertian populasi yang demikian diatas, maka populasi menjadi amat beragam. Kalau populasi dilihat dari penentuan sumber data, maka populasi dapat dibedakan menjadi: populasi terbatas dan populasi tidak terbatas.
1.      Populasi terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber yang jelas batas-batasnya secara kuantitatif.
Contoh:
·         Jumlah Penduduk kota Bandung 2.500.000 jiwa.
·         Jumlah 1.490 guru SD di Yogyakarta mengikuti prajabatan.
2.      Populasi tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat ditentukan batas-batasnya secara kuantitatif.
Contoh:
·         Suatu percobaan seorang Bandar akan melemparkan sepasang dadu sampai tak terhingga kali lemparan,maka setiap kali mencatat sepasang bilangan yang muncul akan mendapatkan sepasang nilai yang tak terhingga pula.
·         Meneliti berapa liter pasang surut air laut pada bulan purnama.
Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan: Populasi homogen dan Populasi heterogen.
1.      Populasi homogen, yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat yang relatif sama satu sama lainnya.
2.      Populasi heterogen, yaitu keseluruhan individu anggota populasi relatif memiliki sifat-sifat individual, dimana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan yang lainnya.

B. Pengertian Sampel
Sugiyono (1996) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi terlalu besar maka untuk memudahkan penelitian maka perlu dilakukan pengambilan sampel (sampling). Sedapat mungkin dalam pengambilan sampel harus benar-benar menggambarkan keadaan populasi.
Pengambilan sampel yang tidak reprensentatif (tidak mewakili), ibarat orang buta menggambarkan keadaan gajah. Satu orang buta memegang telinga gajah, maka ia bilang bahwa gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang kaki gajah, maka ia bilang bahwa gajah itu seperti bambu yang besar. Orang ketiga memegang badan gajah yang besar, kemudian ia bilang bahwa gajah itu seperti tembok. Begitulah pengambilan sampel yang tidak representatif akan menggambarkan sesuatu  itu salah, karena kesimpulannya terputus-putus, tidak utuh.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan. Secara umum teknik pengambilan sampel dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yakni; probability sampling dan non probability sampling.

1)      Probality Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama terhadap semua anggota populasi untuk dijadikan sampel. Teknik ini meliputi;
1. Simple Ramdom Sampling, dikatakan simpel (sederhana) karena pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Cara ini dilakukan apabila anggota populasi dianggap homogen.
2. Proportionate Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.
3. Disproportionate Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel apabila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.
4. Cluster Sampling, teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel apabila obyek penelitian yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya pelajar dari suatu propinsi, kabupaten atau karisidenan.
2) Non-Probality Sampling
Nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
1.  Sampling Sistematis, adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
2.  Sampel Kuota, adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai  jumlah (kuota) yang diinginkan.
3. Sampel  Aksidental, adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4.  Sampel Purposive,  adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin guru dalam mengajar di kabupaten X, maka  sampel yang dipilih adalah seluruh guru yang mengajar di sekolah yang dikehendaki oleh peneliti sebagai  obyek penelitian.
 5.  Sampel Jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel.
6.  Sampel Snowball, adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang bila menggelinding , makin lama makin besar.


D. Menentukan Jumlah Sampel
Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah populasi.  Jadi jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (Sugiono, 1994; 63)
Terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi dalam buku ini kita akan menggunakan Teknik Proportionate Rondom Sampling.
Contoh :
·         Cara menentukan ukuran sampel (Jumlah kursi anggota DPR dari partai besar pemenang pemilu Tahun 1999 sebesar N =423 kursi) dengan teknik proportionate rondom sampling.
1)      Jumlah petugas pendamping IDT (N)=424 orang yang besarnya ditentukan oleh rumus Al-Rasyid (1994;156) sebagai berikut :
Dimana :         
                        N = Jumlah populasi = 423kursi
                        Be =Bound of Error diambil 10%
                        Z
dan no = 0,05 N = 0,05  423 = 21,15,karena no > 0,05 N atau 99,0025> 21,15 maka besarnya sampel dapat dihittung dengan rumus :
Sehingga jumlah sampel yang di peroleh adalah sebagai berikut :
Dalam penelitian ini nilai 80,36 dibulatkan menjadi 81 responden.Dari jumlah sampel tersebut kemudian ditentukan jumlah masing-masing sampel menurut tingkatan (strata) pegawai secara proposional dengan rumus :        ni = NI/N . n
Dimana :          ni = jumlah sampel menurut stratum                                                               n = jumlah sampel seluruhnya
                        Ni = jumlah populasi menurut stratum
                         N = jumlah populasi seluruhnya
1)      Jumlah kursi anggota DPR
a)      PDIP                                 = 153/423  81 = 29,30 29 kursi
b)      Partai Golkar                     = 120/423  81 = 22,98  23 kursi
c)      PPP                                   =  58/423   81 =  11,11  11 kursi
d)     PKB                                  =   51/423  81 = 9,77             10 kursi
e)      Partai Demokrasi   =   41/423  81 = 7,85             8 kursi
Berdasarkan perhitungan diatas, maka dibuatkan seperti pada TABEL 2 sebagai berikut :
TABEL 2
POPULASI DAN SAMPEL ANGGOTA DPR PARTAI BESAR
PEMENANG PEMILU TAHUN 1999
NO
PARTAI BESAR PEMENANG PEMILU
POPULASI
SAMPEL
1.
2.
3.
4.
5.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Partai Golkar
Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Partai Reformasi
153 orang
120 orang
58 orang
51 orang
41 orang
29 kursi
23 kursi
11 kursi
10 kursi
8 kursi
Jumlah
423 orang
81 kursi



DATA

Pengertian Datadan Penggolongannya
            Dari uraian di atas, sebenarnya data adalah kumpulan keterangan atau informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau sifat. Jika kita mendapatkan data yang tidak baik, sebaik apa pun cara pengolahan data yang kita lakukan, hasilnya atau kesimpulan yang didapat dari data tersebut tetap tidak baik. Semisal, ungkapan ”garbage in, garbage out”, yang artinya jika yang masuk sampah, yang keluar pun juga sampah. Jadi, syarat utama agar analisa data secara statistik menghasilkan informasi atau kesimpulan yang baik adalah data yang diolah haruslah juga baik.

Apa itu data yang baik? Data yang baik adalah data yang sifatnya representatif (mewakili), objektif (sesuai dengan apa yang ada atau yang terjadi), relevan (ada hubungannya dengan persoalan yang sedang dihadapi dan akan dipecahkan), mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi atau standard error (kesalahan baku) yang kecil.

Dari mana data diperoleh?Data dapat diperoleh dari sumber internal (internal data) dan sumber eksternal (external data).Data internal adalah data yang didapat oleh organisasi itu sendiri untuk keperluan operasi sehari-hari.Organisasi dimaksud dapat berupa instansi pemerintah maupun swasta, misalnya departemen-departemen, Biro Pusat Statistik, BAPPENAS, BUMN, perusahaan-perusahaan swasta dan sebagainya.Sedangkan, data eksternal adalah data yang didapat dari luar organisasi yang bersangkutan, biasanya menggambarkan keadaan di luar organisasi tersebut. Contoh data jenis ini misalnya data pendapatan nasional, penduduk, harga-harga bahan pokok yang dukumpulkan oleh Biro Pusat Statistik, data keuangan negara yang dikumpulkan oleh departemen keuangan, data perbankan dari Bank Indonesia dan sebagainya, termasuk data yang dikumpulkan oleh badan-badan internasional, seperti UNESCO, IMF, FAO dan lain-lain.

1. DATA KUANTITATIF DAN DATA KUALITATIF

a) DATA KUANTITATIF
Data yang berbentuk angka atau bilangan, misalnya luas tanah, jumlah penduduk dan sebagainya.Untuk jenis data ini dapat dilakukan perhitungan-perhitungan atau operasi matematika, seperti penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan sebagainya.Data kuantitatif nilainya bisa berubah-ubah sehingga disebut variabel.
Data kuantitatif dapat dibagi atas:
• Data Interval
Ukuran data mempunyai interval atau jarak, misalnya berat badan antara 50-60 kg.
• Data Rasio
Data berupa angka dalam arti yang sebenarnya, sehingga mempunyai nilai nol.
Data jenis ini diperoleh melalui pengukuran dan memiliki tingkat pengukuran paling tinggi diantara jenis data lainnya.

b) DATA KUALITATIF
Data kualitatif adalah data yang bukan berbentuk angka atau bilangan, misalnya kepuasan pelanggan (sangat puas, puas, kurang puas dan sebagainya), sehingga kita tidak dapat melakukan operasi matematika terhadapnya. Jenis data ini disebut atribut.
Data kualitatif dapat dibagi atas:
• Data nominal
Ukuran data nominal adalah kategori, misalnya jenis kelamin, laki-laki atau wanita, tempat tinggal dan sebagainya. Dilihat dari tingkat pengukuran data, data nominal mempunyai tingkatan yang paling rendah dari jenis data lainnya.Hal tersebut karena walaupun dalam prakteknya data ini bisa diangkakan, tetapi terhadapnya tidak bisa dilakukan operasi matematika. Contoh pemberian angka tersebut di atas misalnya, angka ’1’ untuk yang tinggal di Jakarta, ’2’ untuk yang tinggal di Bandung, ’3’ untuk Surabaya dan sebagainya.
• Data Ordinal
Data ordinal hampir sama dengan data nominal, hanya saja data orrdinal mempunyai tingkatan data atau urutan kelas, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Contoh data ini adalah data tentang kepuasan pelanggan, yang dibagi menjadi sangat puas, tidak puas, antara puas dan tidak puas, tidak puas dan sangat tidak puas.Data ordinal mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari data nominal.Walaupun mempunyai tingkatan, terhadap jenis data ini kita tetap tidak dapat melakukan operasi matematika.

Dilihat dari tingkat data, urutan dari yang paling tinggi adalah data rasio, data interval, data ordinal dan paling rendah data nominal.Untuk mengolah data kualitatif (data nominal dan ordinal), biasanya digunakan statistik non parametrik, sedangkan untuk data kuantitatif digunakan statistik parametrik.

2. DATA INTERNAL DAN DATA EKSTERNAL

• DATA INTERNAL
Data yang berasal dari dalam organisasi atau perusahaan sendiri. Data jenis ini biasanya berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data keuangan (neraca, laporan laba-rugi dan sebagainya), data kepegawaian, data produksi dan lain-lain.
• DATA EKSTERNAL
Data yang berasal bukan dari dalam organisasi perusahaan sendiri. Data ini sering tidak berkaitan langsung dengan organisasi sendiri, misalnya data tentang jumlah kendaraan di Jakarta, jumlah penduduk di suatu desa dan lain-lain.

3. DATA PRIMER DAN DATA SEKUNDER
• DATA PRIMER
Data yang dukumpulkan, diolah serta diterbitkan sendiri oleh organisasi yang menggunakannya. Contoh jenis data ini adalah data kependudukan yang dibuat oleh Biro Pusat Statistik, data tentang pertanian yang dibuat oleh Departemen Pertanian dan sebagainya.
• DATA SEKUNDER
Data yang tidak dibuat atau diterbitkan oleh penggunanya, misalnya data tentang jumlah kendaraan dari Departemen Perhubungan merupakan data primer bagi Departemen tersebut karena dibuat dan diterbitkannya, tapi merupakan data sekunder bagi PT X sebagai pengguna, yang mendapatkannya dari sumber lain (misalnya media massa) yang mengutipnya. Jadi, orang bisa mendapatkan data sekunder dari harian, majalah, buletin dan media massa lainnya yang mengutip data dari sumber-sumber lain yang menerbitkannya (misalnya data dikutip dari departemen, Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia dan lain-lain). Dengan demikian, data eksternal bisa berupa data primer, bisa juga berupa data sekunder.



JENIS SKALA & TIPE SKALA PENGUKURAN
1. Jenis Skala Pengukuran
          Maksud dari skala pengukuran ini untuk mengklasifikasikan variabel yang akan di ukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya. Jenis-jenis skala pengukuran ada 4 yaitu : Skala Nominal, Skala Ordinal, Skala Interval, dan Skala Ratio.
a)      Skala Nominal
          Skala nominal yaitu skala yang paling sederhana disusun menurut jenis atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk membedakan sebuah karateristik dengan karateristik yang lain.
Ciri-ciri skala nominal :
·         Hasil penghitungan dan tidak dijumpai bilangan pecahan,
·         Angka yang tertera hanya label saja,
·         Tidak mempunyai urutan (ranking),
·         Tidak mempunyai ukuran baru,
·         Tidak mempunyai nol mutlak.

Ø 
2
3
2
1
3
1
3
Contoh data nominal sebenarnya :
Jenis Kulit : Hitam             Kuning           Putih             Angka                              
4
1
3
2
5
hanya sebagai label saja.
6
5
Suku Daerah : Jawa           Madura           Bugis          Sunda          Batak             Minang            .
2
4
1
3
 
Agama yang dianut : Islam             Kristen            Hindu             Budha             dan lain-lainnya.
Ø 
4          
3
2
1
Contoh data nominal tidak sebenarnya :
-SD             SMP            SMU             dan PT            
2
1
-Laaki-laki            dan Wanita          
3
2        
1
2
1
4
-Tahun Produksi Kendaraan Bermotor : 2001             2002             2003   dan 2004            .
-Pekerja            dan Pengangguran

b)     Skala Ordinal
Skala Ordinal adalah skala yang di dasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang terendah atau sebaliknya.
Contoh :
1)      Mengukur tingkat prestasi kerja
Nilai :                 I                II             III              IV
 


Angka :        100           80             75             50
2)      Mengukur gaji pegawai
Eselon :              I                II             III              IV
 

Gaji (Juta) :        1              0,75           0,5           0,25
3)     
4
3
2
1
Mengukur ranking kelas : I, II, III
4)      Keteladanan : tingkat            tingkat             tingkat            dan tingkat               
5)      Tingkat senioritas pegawai
3
4
 
6)     
1
2
2
Kepangkatan militer. Misalnya : Jendral            Letnan Jendral            Mayor Jendral          dan Brigandir Jendral          

1
3
2
 
7)      Status sosial : Kaya            Sederhana            dan miskin
8)      Daftar urut pegawai.
   Langkah-langkah pengerjaan apabila terjadi sama nilainya dalam data skala ordinal :
·         Urutkan data dari yang terendah sampai yang tertinggi atau sebaliknya.
·         Berilah angka 1(tertinggi) dan 4 (terendah).
Contoh :
Dalam proses mengajar di di STIA LAN, di dapat data berjenjang yaitu :
4
3
2        
1
IPK :                            3,8        3,2        3,2        3,0
   Ranking semula :
   Maka ranking menjadi :
a)      IPK 3,8 sebagai Ranking 1
b)      IPK 3,2 sebagai Ranking 2,5 dengan cara : ½ (2+3) = 2,5
c)      IPK 3,0 sebagai Ranking 4


c) Skala Interval
          Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama.
Contoh :
·         Skor ujian Perguruan tinggi : A, B, C, D, dan E.
·         Skor IQ
·         Waktu : menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun.
·         Temperatur atau suhu
·        
5
5
Mengurutkan : Kualitas Pelayanan, Keadaan Persepsi Pegawai, dan Sikap Pimpinan.
Sangat puas                                      Sangat baik
4
4
 
Puas                                                  Baik
3
3
 
Cukup Puas                                       Sedang
2
2
 
Kurang Puas                                      Buruk
1
1
 
Tidak Puas                                         Buruk sekali                                            

·         Memperlihatkan Jarak (interval)
Standar nilai mahasiswa untuk mencapai IP:
Huruf : A = 4; B = 3; C = 2; D = 3; dan E = 0
Nilai intervalnya :
a)      A dengan B        4 – 3 = 1
b)      B dengan D        3 – 1 = 2
c)      A dengan D        4 – 1 = 3, dan seterusnya.
Nilai interval A dengan D dengan C adalah
= (A - C) + (C - D) = (4 - 2) + (2 -1) = 3

d)     Skala Ratio
          Skala ratio adalah skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama. Misalnya umur manusia dan ukuran timbangan keduanya tidak memiliki angka nol negatif.Artinya seseorang tidak dapat berumur di bawah nol tahun dan seseorang harus memiliki timbangan di atas nol pula.
Contoh yang lain :
Berat badan, tinggi pohon, tinggi badan manusia, jarak, panjang, dan sebagainya.

2. Tipe Skala Pengukuran
Tipe skala pengukuran menurut gejala sosial yang diukur,yaitu :
Ø  Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian. Termasuk tipe ini adalah : skala sikap, skala moral, ktest karakter, skala partisipasi sosial.
Ø  Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial. Termasuk tipe ini adalah : skala mengukur status sosial ekonomi, lembaga – lembaga swadaya masyarakat (sosial), kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan lain sebagainya.

Skala Sikap
Pada skala ini dikemukakan hanya untuk mengukur sikap.
Skala sikap yang sering digunakan ada 5 macam,yaitu :
1.      Skala Likert
2.      Skala guttman
3.      Skala Simantict Defferensial
4.      Ranting Scale
5.      Skala Thurshtone
1)      Skala Likert
         Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,pendapat dan persepai seorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial.
         Dengan menggunaka skala likert, maka variabel yang di ukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi di jabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel di jabarkan menjadi indikator – indikator yang dapat diukur.Dan indikator yang sudah terukur dapat di jadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan yang perlu di jawab oleh responden.
Dalam hubungan teknik pengumpulan data angket, instrumen disebarkan kepada 70 responden, kemudian direkapitulasi.
2)      Skala Guttman
Skala guttman adalah skala komulatif.Skala Guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel yang multi dimensi. Skala guttman disebut juga skala scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang di teliti,yang sering disebut dengan atribut universal.
         Jadi,skala guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya : yakin – tidak yakin; ya – tidak; benar – salah; positif – negatif; pernah – belum pernah; setuju – tidak setuju.dan lain sebagainya.
3)      Skala Diferensial Semantik
       Skala diferensial semantik atau skala perbedaan semantik berisikan serangkaian karateristik bipolar (dua kutub), seperti : panas – dingin; popular – tidak  popular; baik – tidak baik, dan sebagainya
Karateristik bipolar mempunyai 3 dimensi dasar sikap seseorang terhadap objek yaitu :
·         Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu objek
·         Evaluasi, yaitu hal2 yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu objek.
·         Aktivitas, yaitu tingkat gerakan suatu objek (Jusman Iskandar dan Karolina Nitimiharjo 2000: 154 - 155)
Contoh :                               Netral                         
1                  5
1                  5
1                  5
1                  5
1                  5
1                  5
Cerdas                                     Bodoh



Dari contoh diatas, responden memberikan tanda (x) terhadap nilai yang sesuai dengan persepsinya.
4)      Rating Scale
          Berdasarkan ke 3 skala pengukuran, yaitu: Skala Likert; Skala guttman, dan skala perbedaan semantik,data yang diperoleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan.Sedangkan rating scale yaitu data mentah yang di dapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Rating scale tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja,tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap gejala atau fenomena lainnya.
          Misalnya skala untuk mengukur status sosial ekonomi, iptek, instansi dan lembaga, kinerja dosen, kegiatan PBM, kepuasan pelanggan,produktifitas kerja, motivasi pegawai, dan lainnya.   
5)      Skala Thurstone
Skala thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pernyataan yang menyajikan pandangan yang berbeda – beda.Pada umumnya setiap item mempunyai asosiasi nilai antara 1 sampai dengan 10,














DAFTAR PUSTAKA
Riduan,2003.Statistika Dasar.Bandung:Alfabeta
Amiruddin, Wachid.2012. Populasi dan Sampel.Tersedia :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar